Jeritan kalbu
Buah pena: hani fatul
khusna (elegi)
Senja datang mengabur
Membawa gundah yang
semakin bertalu
Denting sang waktu
terus berpacu
Mengejarku hinggaku
tak mampu
Hentakan sang waktu
ikut menyorakiku
Membuat jiwaku
semakin pilu
Dadaku penuh sesak
Terhimpit beribu
pertanyaan tak bermuara
Selalu seperti itu………
Seperti dahaga yang
belum temukan obatnya
Selalu seperti ini………
Layaknya air mereka
terus mengalir, tanpa dapat dicegah
Aku coba berkaca pada
air mata
Bertanya pada suara
yang lelah
Tapi semuanya
membisu, membatu, tak berkata
Membuat kecewa ini
semakin mengangah
Aku lelah………..
Entah pada siapa ku
timpakanya
Aku lelah…….
Tak sanggup lagi
mengadu gundah
Sang kalbu bertanya
Dapatkah aku hidup
seabadi edelwise
Hidup lebih lama lagi
di dunia fana ini
Melukiskan kepingan
kepingan memori berarti
Sang kalbu kembali
bertanya
Dapatkah aku hidup
setegar dan dellion
Yang rela di
hembuskan angin tanpa sisa
Sang kalbu lagi lagi
bertanya
Dapatkah aku hidup
sekuat calla lily
Yang terus berdiri,
walau diterpa nestapa tiada henti
Tapi semuanya kembali
membisu, membatu, tak berkata
Hingga sang waktu
jualah yang membawaku
Membawaku kembali
dari lamunan sendu
Sang waktu jualah
yang menjawab pertanyaanku
Pertanyaan yang
menyesaki dadaku
Sang kalbu
menyadarkanku
Dentingnya membelai
manja telingaku
Hingga kutemukan
jawabnya
Aku bukanlah
edelwise, dandelion atau calla lily
Aku hanyalah seonggok
daging yang akn mati
Aku hanyalah mahluk
lemah tak berarti
Aku hanyalah jiwa
rapuh yang akan pergi
Kembali ketempatku
berpijak suatu hari nanti
Tenggelam bersama
sepi,
Menunggu belas kasih
sang illahi rabbi
Demam sekolah
Buah pena: yu’ti
a’yunina
Angin malas memadu
Antara mundur atau
maju
Malas menggebu gebu
Untuk pulas melayu
Malas……
Malas
Dan selalu malas
Bertubi tubi mengendurkan
jiwa
Lantas, tak jenuh
merayu
Tuk terpuruk dibalik
selimut bulu
Lambat laun, gentar
rongga jiwaku
Sungut sungut malas
jatuh, runtuh
Kembali jaya mengais
ilmu
Seribu gelora maik
tahta
Menuju sukses bahagia
Lantaran apa?
Pondasi niat tertata
Mantap tekad terbuka
Dan mantra terpercaya
“allahumma paksa”
Negeri yang gila
Buah pena: upik
sutriani (satire)
Alam mulai enggan
dengan zaman
Saat zaman termakan
kecerdasan
Dunia seakan hancur
tanpa sisa
Tangan jail pelakunya
Tak kenal siapa
tuhanya
Adab binatang di
gunakan
Tikus berdasi tak tau
diri
Tak mengerti
ringkihan tubuh ini
Dan telah masuk
budaya mimikri
Mengkontaminasi
ambisi dan korupsi
Impian apa yang
hendak engkau torehkan
Pada negeri yang gila
ini?
Maha cinta
Buah pena: yunita
firda nisa (hymne)
Hitam …….
Bayangnya rapuh tanpa
kata
Desah hujan iringi
butiran luka
Ketika waktu berlalu
Berlarut bersama
putaran masa
Satu persatu cerita
Ubah duka menjadi
legenda
Maha cinta……
Tetapkan satu jalan
cinta
Ini karya indahnya
Dua kehidupan berbaur
padu
Dalam segenggam
perasaan ajaib
Doa ku pada maha
cinta
Cinta selamanya…..
Alarm tuhan
Buah pena: regin diah
anggraeni (himne)
Rangkaian noda
pembentuk melodi
Indah terdengar
lantunanya
Namun, tetap saja
Dalam terjaga hamba
memalingkanya
Rintihan lirih
menjadi teriakan memilukan
Segera gamba
senyapkan
Meringkuk mendekap
putaran waktu
Kembbali terjaga
dalam kehayalan
Diselimuti angin
malam
Melawan peringatan
tuhan
Tubuhku tergoncang
Dering kembali datang
Berulang ulang
menggetarkan perasaan
Tak peduli tuan
meringkuk kelelahan
Dring yang malang
Hamba yang mengatur
Hamba pula yang
melanggar
Kini lebih lantang
dan menggertak
Seolah tuhan murka
Memberi peringatan dan seruan
Kewajiban harus di
tegakkan
Dapat rugi bila hamba
abaikan
Sesal pada akhirnya
Segera hamba
mensucikan diri
Bersimpu malu
dihadapan ilahi
Harapan abadi
Buah pena: feronica
ambarwati (hymne)
Termangu aku dalam
duniaku
Mulai marah
membongkah amarah
Awan
berkabut……….terbang!
Seakan melepas dosaku
sendu
Hatiku rindu
Terjerat akan
ridho-Mu
Saripati tanah yang
kau beri ini
Seperi tersayat
Jemariku bergetar
Saat kuangkat
Untuk mengharap
maaf-Mu
Sepi………..hening
Aku masih dalam
sujud-Mu
Malaikat mungilku
Buah pena: din dian
safira (elegi)
Kali pertama kau tengok
dunia
Rasa didada semerbak
bunga
Bahagia kian berbuah
cinta
Menuai seribu citra
Lembut kulit cangkang
telurmu
Bagaikan jamuan sutra
Elok sosok dirimu
Serasa melihat surga
Merdu tangis ledakmu
Seakan mengalun roma
Kau malaikat mungilku
Kau separuh aku
Kau pelita manisku
Terima kasih tuhan
Telah engkau
datangkan
Sesosok malaikat
kriman
Redupkan kegalauan
Nan lucu dan
menggemaskan
Rintihan hatiku
Buah pena: Muhammad
ulinuha (elegi)
Kosong……
Hampa……
tak jelas arah
hidup tanpa asa
air mata bertumpuk
sesak tak terperi
bagai terpotong
bumerang aborigin
angkara merayap
hinggap
pahlawan ma’ruf
mendadak hilang
raab…….
Dimana sinar jelasmu
Sini biar ku dekap
Erat…..erat…..
Obat hati yang
kurindu
Apakah hanya bisa
kurindu?
Sang kelabu
Buah pena: kiki
khoerun nadzifa (elegi)
Pagi ini langit
membiru
Menghantarkan sang
mentari tersenyum diatas awan
Tapi sayangnya
Sang langit menyambut
sang hujan bersama sang awan
Membiarkan”biru” raib
berganti “kelabu”
Hantar sejuknya angin
Suasan yang selalu ku
tunggu
Dalam semburat lugu
Terhitung detik yang
menghantam waktu
Biarkan…..
Biarkan dia jatuh
dalam deras
Untuk menemaniku
kehampaan hati
Musuh tanpa nafas
Buah pena: via
haryati (elegi)
Melayang terbang.
Berserakan dan mengambang
Menyisakan duka di mata
yang memandang
Berpaling dari sebab
dan akibat yang muncul
Terlempar jatuh tak
terpandang
Sungai, taman, jalan
Menjadi pelabuhan
terakhirnya
Mengubah senyum
menjadi rasa sesal
Mengubah tawa menjadi
tangis
Mengapa dulu begitu
angkuh
Goresan nasehat dan orang
bijak masih ada
Mengapa lebih memilih
bencana tumbuh
Sedangkan keselamtan
masih di depan mata
Tangga tua
Buah pena: nur anisak
(balada)
Krek….krek…….
Bunyi renta menua
Kenang kenang tersisa
Beralun indah
Antara daku dan dia
Saat kau tiada
Hanya sisa sisa di
tangga
Tunggu aku….
Senja telah usiaku
Kan tidur bersama
tangga tua
Lagak tikus
Buah pena: fajriyatul
Fatimah (satire)
Seiring waktu
bergulir
Roda dunia mengukir
kehidupan
Diwaktu mendapat uang
Diwaktu mendapat
pangkat
Begitu juga kekayaan
bergelimang
Kau tersenyum puas
Dengan hati girang
Tapi camkan
Tuhan lincah meneliti
gerak- gerikmu
Ketika tangan tuhan
murka,
Bak halilintar
menyambar
Melesaplah seluruh
kebangganmu
Hanya rintik rintik
kecil
Membasahi hidupmu
Kau menjalaninya
Hanya kais kais kecil
Menjadi pokok hidupmu
Sejingga ungu
Buah pena: kuuni
fatimataz Zahra (elegi)
Sejenak ku
tengadahkan kepalaku
Yang mulai kehilangan
arah
Menatap rona jingga
yang berangsur menjadikanya ungu
Mengingatkanku akan
peristiwa lalu
Bersama kemerlap
lemahnya sang bintang
Seolah langit mampu
merasakanya
Ku termenung,
kehilangan rembulan
Dibawah pelita
harapan
Rembulanmu yang kian
meredup
Takkan lagi menyinari
gelapku
Dan kini,
Bintangku pun
kehilangan harapan hidup
Selamat jalan rembulan
Lantunan munajat
cintaku selalu menyertaiku
Misteri keindahan
semenanjung
Bua pena: Muhammad
fida’ aulia
Tersipu angina sejuk
Terkaca dalam
beningnya lautan
Pohon kelapa
berlambaian
Senja kini kian redup
hilang
Gemuruh ombak
menabrak karang
Oh……..
Indahnya semenanjung
Semenanjung yang kian
hilang
Termakan gansnya
waktu yang menelan
Sampah berceceran
mengejek
Mengejek bulan
purnama indah
Mungkin indahnya
semenanjung
Seperti indahnya
surga dunia
Yang menjadi neraka
dunia
Mungkin 10 tahun akan
datang
Semenanjung hilang
rata
Atau hilang diakui
Negara tetangga
Keindahan penuh
pertanyaan
Keindahan penuh
pertentangan
Keindahan hilang dan
kini menjadi uang
Karna uang yang di
tuhankan
Dan tuhan di abaikan
Semua ini hanya
kenangan yang menjadi misteri…….
Rintihan hati
Buah pena: nur
karimah (elegi)
Langit gelap,
Suram tak bercahaya
Sunyi menekan
mendesak hatiku
Air mataku berlinang
Menghantarku pada
kepiluan
Hatiku sedih
Hatiku gundah
Merindukan
kebahagiaan silam
Manakala hati berbahagia
Bersama keluarga
tercinta
Lambat laun waktu
kujalani
Namun hari tak
kunjung akhir
Ku ingin lekas pulang
Beranjak kembali pada
tempat kelahiran
Rintihan tanah
Buah pena: nur kholis
(elegi)
Ketika pasukan hitam
kembali
Tak…..tak…….tak……tak
Suara gemuruh
menakuti
Seluruh tubuh semakin
menjadi jadi
Dinia semakin
menyepit
Tubuh terasa sakit
Tanah mulai
menghimpit
Mungkar nakir
menggerogoti
Mulu terasa dibungkam
Tubuh terasa di
hantam
Ularpun menikam
Membalas segala
perbuatan
Mata terlapas dari
sarangnya
Daging terlepas dari
tulangnya
Sekujur tubuh hancur
tak tersisa
Hanya darah yang mengalir
disampingya