Senin, 11 Mei 2015

bahasa 1

Jeritan kalbu
Buah pena: hani fatul khusna   (elegi)

Senja datang mengabur
Membawa gundah yang semakin bertalu
Denting sang waktu terus berpacu
Mengejarku hinggaku tak mampu
Hentakan sang waktu ikut menyorakiku
Membuat jiwaku semakin pilu
Dadaku penuh sesak
Terhimpit beribu pertanyaan tak bermuara
Selalu seperti itu………
Seperti dahaga yang belum temukan obatnya
Selalu seperti ini………
Layaknya air mereka terus mengalir, tanpa dapat dicegah
Aku coba berkaca pada air mata
Bertanya pada suara yang lelah
Tapi semuanya membisu, membatu, tak berkata
Membuat kecewa ini semakin mengangah
Aku lelah………..
Entah pada siapa ku timpakanya
Aku lelah…….
Tak sanggup lagi mengadu gundah
Sang kalbu bertanya
Dapatkah aku hidup seabadi edelwise
Hidup lebih lama lagi di dunia fana ini
Melukiskan kepingan kepingan memori berarti
Sang kalbu kembali bertanya
Dapatkah aku hidup setegar dan dellion
Yang rela di hembuskan angin tanpa sisa
Sang kalbu lagi lagi bertanya
Dapatkah aku hidup sekuat calla lily
Yang terus berdiri, walau diterpa nestapa tiada henti
Tapi semuanya kembali membisu, membatu, tak berkata
Hingga sang waktu jualah yang membawaku
Membawaku kembali dari lamunan sendu
Sang waktu jualah yang menjawab pertanyaanku
Pertanyaan yang menyesaki dadaku
Sang kalbu menyadarkanku
Dentingnya membelai manja telingaku
Hingga kutemukan jawabnya
Aku bukanlah edelwise,  dandelion atau calla lily
Aku hanyalah seonggok daging yang akn mati
Aku hanyalah mahluk lemah tak berarti
Aku hanyalah jiwa rapuh yang akan pergi
Kembali ketempatku berpijak suatu hari nanti
Tenggelam bersama sepi,
Menunggu belas kasih sang illahi rabbi


Demam sekolah
Buah pena: yu’ti a’yunina

Angin malas memadu
Antara mundur atau maju
Malas menggebu gebu
Untuk pulas melayu

Malas……
Malas
Dan selalu malas
Bertubi tubi mengendurkan jiwa
Lantas, tak jenuh merayu
Tuk terpuruk dibalik selimut bulu

Lambat laun, gentar rongga jiwaku
Sungut sungut malas jatuh, runtuh
Kembali jaya mengais ilmu
Seribu gelora maik tahta
Menuju sukses bahagia
Lantaran apa?
Pondasi niat tertata
Mantap tekad terbuka
Dan mantra terpercaya
“allahumma paksa”
Negeri yang gila
Buah pena: upik sutriani (satire)

Alam mulai enggan dengan zaman
Saat zaman termakan kecerdasan
Dunia seakan hancur tanpa sisa
Tangan jail pelakunya
Tak kenal siapa tuhanya
Adab binatang di gunakan
Tikus berdasi tak tau diri
Tak mengerti ringkihan tubuh ini
Dan telah masuk budaya mimikri
Mengkontaminasi ambisi dan korupsi
Impian apa yang hendak engkau torehkan
Pada negeri yang gila ini?










Maha cinta
Buah pena: yunita firda nisa (hymne)

Hitam …….
Bayangnya rapuh tanpa kata
Desah hujan iringi butiran luka
Ketika waktu berlalu
Berlarut bersama putaran masa
Satu persatu cerita
Ubah duka menjadi legenda
Maha cinta……
Tetapkan satu jalan cinta
Ini karya indahnya
Dua kehidupan berbaur padu
Dalam segenggam perasaan ajaib
Doa ku pada maha cinta
Cinta selamanya…..








Alarm tuhan
Buah pena: regin diah anggraeni (himne)

Rangkaian noda pembentuk melodi
Indah terdengar lantunanya
Namun, tetap saja
Dalam terjaga hamba memalingkanya
Rintihan lirih menjadi teriakan memilukan
Segera gamba senyapkan
Meringkuk mendekap putaran waktu
Kembbali terjaga dalam kehayalan
Diselimuti angin malam
Melawan peringatan tuhan
Tubuhku tergoncang
Dering kembali datang
Berulang ulang menggetarkan perasaan
Tak peduli tuan meringkuk kelelahan
Dring yang malang
Hamba yang mengatur
Hamba pula yang melanggar
Kini lebih lantang dan menggertak
Seolah tuhan murka
Memberi  peringatan dan seruan
Kewajiban harus di tegakkan
Dapat rugi bila hamba abaikan
Sesal pada akhirnya
Segera hamba mensucikan diri
Bersimpu malu dihadapan ilahi






















Harapan abadi
Buah pena: feronica ambarwati (hymne)

Termangu aku dalam duniaku
Mulai marah membongkah amarah
Awan berkabut……….terbang!
Seakan melepas dosaku sendu
Hatiku rindu
Terjerat akan ridho-Mu
Saripati tanah yang kau beri ini
Seperi tersayat
Jemariku bergetar
Saat kuangkat
Untuk mengharap maaf-Mu
Sepi………..hening
Aku masih dalam sujud-Mu









Malaikat mungilku
Buah pena: din dian safira (elegi)

Kali pertama kau tengok dunia
Rasa didada semerbak bunga
Bahagia kian berbuah cinta
Menuai seribu citra
Lembut kulit cangkang telurmu
Bagaikan jamuan sutra
Elok sosok dirimu
Serasa melihat surga
Merdu tangis ledakmu
Seakan mengalun roma
Kau malaikat mungilku
Kau separuh aku
Kau pelita manisku
Terima kasih tuhan
Telah engkau datangkan
Sesosok malaikat kriman
Redupkan kegalauan
Nan lucu dan menggemaskan




Rintihan hatiku
Buah pena: Muhammad ulinuha (elegi)

Kosong……
Hampa……
tak jelas arah
hidup tanpa asa
air mata bertumpuk
sesak tak terperi
bagai terpotong bumerang aborigin
angkara merayap hinggap
pahlawan ma’ruf mendadak hilang
raab…….
Dimana sinar jelasmu
Sini biar ku dekap
Erat…..erat…..
Obat hati yang kurindu
Apakah hanya bisa kurindu?







Sang kelabu
Buah pena: kiki khoerun nadzifa (elegi)

Pagi ini langit membiru
Menghantarkan sang mentari tersenyum diatas awan
Tapi sayangnya
Sang langit menyambut sang hujan bersama sang awan
Membiarkan”biru” raib berganti “kelabu”
Hantar sejuknya angin
Suasan yang selalu ku tunggu
Dalam semburat lugu
Terhitung detik yang menghantam waktu
Biarkan…..
Biarkan dia jatuh dalam deras
Untuk menemaniku kehampaan hati










Musuh  tanpa nafas
Buah pena: via haryati (elegi)

Melayang terbang. Berserakan dan mengambang
Menyisakan duka di mata yang memandang
Berpaling dari sebab dan akibat yang muncul
Terlempar jatuh tak terpandang
Sungai, taman, jalan
Menjadi pelabuhan terakhirnya
Mengubah senyum menjadi rasa sesal
Mengubah tawa menjadi tangis
Mengapa dulu begitu angkuh
Goresan nasehat dan orang bijak masih ada
Mengapa lebih memilih bencana tumbuh
Sedangkan keselamtan masih di depan mata










Tangga tua
Buah pena: nur anisak (balada)

Krek….krek…….
Bunyi renta menua
Kenang kenang tersisa
Beralun indah
Antara daku dan dia
Saat kau tiada
Hanya sisa sisa di tangga
Tunggu aku….
Senja telah usiaku
Kan tidur bersama tangga tua












Lagak tikus
Buah pena: fajriyatul Fatimah (satire)

Seiring waktu bergulir
Roda dunia mengukir kehidupan
Diwaktu mendapat uang
Diwaktu mendapat pangkat
Begitu juga kekayaan bergelimang
Kau tersenyum puas
Dengan hati girang
Tapi camkan
Tuhan lincah meneliti gerak- gerikmu
Ketika tangan tuhan murka,
Bak halilintar menyambar
Melesaplah seluruh kebangganmu
Hanya rintik rintik kecil
Membasahi hidupmu
Kau menjalaninya
Hanya kais kais kecil
Menjadi pokok hidupmu





Sejingga ungu
Buah pena: kuuni fatimataz Zahra (elegi)

Sejenak ku tengadahkan kepalaku
Yang mulai kehilangan arah
Menatap rona jingga yang berangsur menjadikanya ungu
Mengingatkanku akan peristiwa lalu
Bersama kemerlap lemahnya sang bintang
Seolah langit mampu merasakanya
Ku termenung, kehilangan rembulan
Dibawah pelita harapan
Rembulanmu yang kian meredup
Takkan lagi menyinari gelapku
Dan kini,
Bintangku pun kehilangan harapan hidup
Selamat jalan rembulan
Lantunan munajat cintaku selalu menyertaiku








Misteri keindahan semenanjung
Bua pena: Muhammad fida’ aulia

Tersipu angina sejuk
Terkaca dalam beningnya lautan
Pohon kelapa berlambaian
Senja kini kian redup hilang
Gemuruh ombak menabrak karang
Oh……..
Indahnya semenanjung
Semenanjung yang kian hilang
Termakan gansnya waktu yang menelan
Sampah berceceran mengejek
Mengejek bulan purnama indah
Mungkin indahnya semenanjung
Seperti indahnya surga dunia
Yang menjadi neraka dunia
Mungkin 10 tahun akan datang
Semenanjung hilang rata
Atau hilang diakui Negara tetangga
Keindahan penuh pertanyaan
Keindahan penuh pertentangan
Keindahan hilang dan kini menjadi uang
Karna uang yang di tuhankan
Dan tuhan di abaikan
Semua ini hanya kenangan yang menjadi misteri…….
























Rintihan hati
Buah pena: nur karimah (elegi)

Langit gelap,
Suram tak bercahaya
Sunyi menekan mendesak hatiku
Air mataku berlinang
Menghantarku pada kepiluan
Hatiku sedih
Hatiku gundah
Merindukan kebahagiaan silam
Manakala hati berbahagia
Bersama keluarga tercinta
Lambat laun waktu kujalani
Namun hari tak kunjung akhir
Ku ingin lekas pulang
Beranjak kembali pada tempat kelahiran








Rintihan tanah
Buah pena: nur kholis (elegi)

Ketika pasukan hitam kembali
Tak…..tak…….tak……tak
Suara gemuruh menakuti
Seluruh tubuh semakin menjadi jadi

Dinia semakin menyepit
Tubuh terasa sakit
Tanah mulai menghimpit
Mungkar nakir menggerogoti

Mulu terasa dibungkam
Tubuh terasa di hantam
Ularpun menikam
Membalas segala perbuatan

Mata terlapas dari sarangnya
Daging terlepas dari tulangnya
Sekujur tubuh hancur tak tersisa

Hanya darah yang mengalir disampingya